Cari Blog Ini

Breaking News

Harga Sawit Lagi “Gacor”, Tapi Kenapa Petani Justru Deg-Degan?

Harga TBS Petani Sawit di Jambi Naik di Periode akhir Maret 2026.

KabarLemang.com
 – Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Provinsi Jambi mengalami lonjakan signifikan dalam periode 13 Maret hingga 2 April 2026. Kenaikan ini dipicu oleh dinamika pasar global, termasuk eskalasi konflik di Timur Tengah yang berpotensi mengguncang sektor energi dan komoditas.

Berdasarkan penetapan tim harga provinsi, TBS untuk tanaman usia produktif 10 hingga 20 tahun naik sebesar Rp114,43 per kilogram menjadi Rp3.669,78/kg. Sementara itu, harga crude palm oil (CPO) ditetapkan sebesar Rp14.585,43/kg dan harga inti sawit (kernel) mencapai Rp13.798,19/kg, dengan indeks K sebesar 93,63%.

Kenaikan juga terjadi pada berbagai kelompok umur tanaman. TBS usia 3 tahun berada di Rp2.850,26/kg, usia 4 tahun Rp3.058,10/kg, dan usia 5 tahun Rp3.197,65/kg. Sedangkan usia 6 hingga 9 tahun berkisar antara Rp3.330,37/kg hingga Rp3.555,99/kg.

Di tengah tren kenaikan harga tersebut, petani justru dihadapkan pada bayang-bayang ketidakpastian. Sekretaris Jenderal DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), , mengingatkan bahwa eskalasi konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel dapat berdampak serius terhadap sektor sawit nasional.

Menurutnya, pengalaman saat perang Rusia–Ukraina menunjukkan bahwa konflik global dapat memicu lonjakan harga pupuk yang sebagian besar masih bergantung pada impor.

“Kenaikan harga pupuk sangat berkorelasi dengan harga minyak dunia. Kalau minyak naik, biaya produksi ikut terdongkrak,” ujarnya, dikutip dari MajalahHortus.com, Minggu (29/3/2026).

Selain itu, gangguan distribusi minyak mentah dari kawasan Teluk berpotensi mendorong kenaikan harga energi global. Dampaknya tidak hanya pada biaya produksi, tetapi juga pada negara importir utama seperti India yang bisa menahan pembelian CPO jika harga terlalu tinggi.

Harga Naik, Risiko Juga Mengintai

Rino menjelaskan, meski harga CPO berpotensi naik mengikuti harga minyak dunia, kondisi tersebut belum tentu menguntungkan petani.

Jika negara pembeli mengurangi impor karena harga mahal, maka stok dalam negeri bisa menumpuk. Situasi ini berisiko membuat pabrik kelapa sawit (PKS) memperlambat pembelian TBS dari petani.

“Ini seperti saat larangan ekspor dulu. Harga dunia tinggi, tapi harga di tingkat petani justru jatuh,” katanya.

Ia menambahkan, sekitar 60 persen produksi sawit Indonesia bergantung pada pasar ekspor. Ketergantungan ini membuat sektor sawit sangat rentan terhadap gejolak global.

Dalam jangka pendek, harga TBS diperkirakan masih berpotensi naik seiring terdorongnya harga minyak dunia. Namun, dalam jangka menengah, volatilitas pasar diprediksi meningkat.

Jika konflik berkepanjangan:

  • Harga pupuk berpotensi melonjak tajam
  • Biaya produksi petani meningkat
  • Permintaan ekspor bisa melemah
  • Harga TBS di tingkat petani berisiko anjlok

Sebaliknya, jika konflik mereda dalam waktu dekat, harga sawit berpotensi stabil dan tetap menguntungkan petani.

Apkasindo mengimbau petani untuk mulai mengantisipasi dampak yang mungkin terjadi, termasuk dengan membeli pupuk lebih awal serta menekan biaya produksi yang tidak mendesak.

Kondisi petani dinilai paling rentan karena tidak memiliki daya simpan seperti perusahaan. Jika PKS masih mampu bertahan berminggu-minggu, petani hanya memiliki waktu sangat terbatas untuk menjual hasil panennya.

“Petani sawit memang terkenal tahan banting. Tapi pertanyaannya, tahan sampai kapan?” ujar Rino.

Dengan kenaikan harga yang “menggila” saat ini, petani memang menikmati angin segar. Namun di balik itu, ancaman gejolak global tetap menjadi bayangan yang tidak bisa diabaikan. (KL)


0 Komentar

© Copyright 2022 - Kabar Lemang